CANDI BOROBUDUR
adalah salah satu candi Buddha terbesar dan terpenting di dunia, terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi selama pemerintahan Dinasti Sailendra. Borobudur memiliki keunikan dalam desain arsitekturnya dan dianggap sebagai simbol spiritualitas serta kekayaan budaya Indonesia. Berikut adalah informasi lebih lanjut mengenai Candi Borobudur:
1. Sejarah
Pembangunan: Candi Borobudur diperkirakan dibangun antara tahun 780 hingga 840 Masehi oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Sailendra, meskipun ada beberapa perdebatan tentang waktu pastinya.
Tujuan: Candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan dan meditasi bagi umat Buddha. Candi ini menggambarkan ajaran Buddha, dengan relief-relief yang menceritakan kehidupan Sang Buddha dan ajaran moralnya.
Kehilangan dan Penemuan Kembali: Setelah berabad-abad tidak terurus dan terkubur oleh letusan Gunung Merapi serta perubahan dalam kekuasaan politik, Candi Borobudur terlupakan. Pada abad ke-19, candi ini ditemukan kembali oleh seorang Inggris bernama Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814.
2. Arsitektur dan Desain
Struktur: Borobudur adalah candi berbentuk stupa yang terdiri dari sembilan tingkat, dengan lima tingkat berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat berbentuk lingkaran. Puncaknya adalah sebuah stupa besar di tengah.
Ukuran: Candi ini memiliki dimensi yang sangat besar, dengan panjang sekitar 123 meter dan tinggi 35 meter. Jika dihitung dengan platform dasar, total tinggi Borobudur adalah sekitar 42 meter.
Relief: Candi Borobudur dihiasi dengan lebih dari 2.600 panel relief dan 504 arca Buddha. Relief-relief ini menggambarkan kisah hidup Sang Buddha, termasuk kelahiran, perjalanan spiritual, hingga pencapaian nirwana.
Stupa: Di puncak Borobudur terdapat stupa besar yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Stupa-stupa kecil di sekitar puncaknya melambangkan langkah-langkah menuju pencerahan.
3. Fungsi dan Makna
Tempate untuk Meditasi: Candi ini dirancang sebagai tempat untuk meditasi dan perjalanan spiritual menuju pencerahan. Setiap tingkat menggambarkan tahapan dalam ajaran Buddha, mulai dari dunia duniawi hingga pencapaian nirwana.
Simbolisme: Arsitektur Borobudur memiliki simbolisme yang mendalam, yang mencerminkan perjalanan spiritual umat Buddha. Pengunjung dapat berjalan mengelilingi candi sambil merenungkan ajaran-ajaran Buddha yang diilustrasikan dalam relief.
4. Peran dalam Keagamaan
Agama Buddha: Candi Borobudur merupakan situs keagamaan bagi umat Buddha, meskipun pada saat ini, candi ini juga menjadi simbol kebudayaan Indonesia. Pada waktu-waktu tertentu, Borobudur menjadi tempat upacara keagamaan, seperti Waisak, yang dirayakan oleh umat Buddha.
UNESCO World Heritage Site: Borobudur diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991 karena nilai budaya dan sejarahnya yang sangat penting. Ini menandakan bahwa Borobudur bukan hanya situs keagamaan, tetapi juga warisan budaya dunia.
5. Restorasi dan Pemeliharaan
Restorasi: Pada abad ke-20, Borobudur mengalami beberapa tahap restorasi, dimulai pada tahun 1907 hingga 1911 di bawah pengawasan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1973 hingga 1983, restorasi besar-besaran dilakukan dengan bantuan UNESCO untuk menjaga kelestariannya.
Pemeliharaan Modern: Hingga saat ini, Candi Borobudur terus dipelihara dan diawasi untuk mencegah kerusakan akibat erosi, polusi, dan dampak bencana alam, terutama letusan Gunung Merapi yang berada dekat dengan candi.
6. Akses dan Wisata
Lokasi: Candi Borobudur terletak sekitar 40 kilometer sebelah barat Yogyakarta, dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi, bus wisata, atau transportasi umum.
Wisata: Candi ini merupakan salah satu destinasi wisata utama di Indonesia dan menarik wisatawan dari seluruh dunia. Pengunjung dapat menikmati pemandangan indah, serta melakukan tur untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah dan budaya Borobudur.
Peringatan Waisak: Setiap tahun, perayaan Waisak, yang merayakan kelahiran, pencerahan, dan kematian Buddha, sering diadakan di Borobudur, menarik ribuan umat Buddha dan wisatawan untuk berpartisipasi dalam perayaan tersebut.
7. Tantangan dan Isu Lingkungan
Dampak Bencana Alam: Letusan Gunung Merapi yang terjadi beberapa kali, terutama pada tahun 2010, menyebabkan ancaman bagi keberlanjutan Borobudur. Namun, restorasi dan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala telah membantu mengurangi kerusakan.
Keberlanjutan Wisata: Meningkatnya jumlah pengunjung memunculkan tantangan dalam menjaga kelestarian candi. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengaturan jumlah pengunjung menjadi sangat penting.
Candi Borobudur bukan hanya sebuah monumen religius, tetapi juga simbol kebudayaan Indonesia yang mendalam, mencerminkan kekayaan sejarah dan spiritualitas masyarakat masa lalu. Sebagai situs Warisan Dunia, candi ini tetap menjadi daya tarik utama dan sumber kebanggaan nasional.

Komentar
Posting Komentar